Seni & Budaya

Seni dan budaya merupakan salah satu identitas penting yang dimiliki Padukuhan Rejosari. Berbagai kesenian tradisional masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Upaya pelestarian budaya dilakukan melalui kegiatan seni, pertunjukan budaya, serta pembinaan generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai warisan budaya lokal.

Sanggar Sedyo Laras

Sanggar Seni Sedyo Laras menjadi wadah utama pelestarian seni budaya di Padukuhan Rejosari. Keberadaan sanggar ini berawal dari tradisi kesenian yang telah ada sejak generasi pertama yang dipelopori oleh Mbah Semi. Pada masa berikutnya, kegiatan seni sempat mengalami penurunan, terutama pada masa pandemi Covid-19. Namun semangat masyarakat untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional tidak pernah pada.

Melalui kolaborasi pemuda, Pokdarwis, dan program Desa Budaya, kesenian Rejosari kembali dikembangkan. Minat anak-anak dan remaja terhadap kegiatan seni mulai tumbuh sehingga dibentuk berbagai divisi kesenian sebagai sarana belajar dan berkarya bersama.

Nama Sedyo Laras menggambarkan harapan agar kesenian dapat terus hidup selaras dengan perkembangan zaman. Budaya yang berkelanjutan bukan hanya budaya yang dikuasai oleh ahlinya, tetapi budaya yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga nilai-nilai serta pakem tradisi yang diwariskan.

Perjalanan Pelestarian Kesenian

Perjalanan sanggar tidak selalu mudah. Pada awal pengembangan kembali, masyarakat belum memiliki perangkat gamelan yang memadai sehingga latihan dilakukan dengan memanfaatkan alat-alat lama, meminjam perlengkapan dari sekolah dan desa lain, bahkan menggunakan fasilitas latihan di sekolah. Semangat untuk terus berkesenian membuat kegiatan latihan tetap berjalan hingga sanggar dapat mengikuti pentas seni dan gelar budaya di berbagai kesempatan.

Masyarakat juga meyakini bahwa Rejosari pernah menjadi salah satu pusat kegiatan karawitan di wilayah Srimartani. Informasi tersebut diperoleh dari penelusuran sejarah budaya yang dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga mendorong upaya pendokumentasian dan penggalian kembali potensi kesenian lokal.

Ragam Kesenian Rejosari

Kesenian yang dikembangkan di Padukuhan Rejosari antara lain:

Karawitan

Seni Tari

Jathilan 

Sholawatan Jawa 

Angklung 

Kegiatan seni melibatkan anak-anak, remaja, dan masyarakat umum sehingga menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.

Kegiatan dan Latihan

Kegiatan latihan dilaksanakan secara berkala dan menyesuaikan kebutuhan sanggar, terutama menjelang pentas atau kegiatan budaya masyarakat. Sanggar juga aktif berpartisipasi dalam acara desa, gelar budaya, dan pertunjukan seni di lingkungan sekitar.

Tradisi Sosial Budaya Masyarakat

Kehidupan budaya masyarakat Rejosari tidak terlepas dari berbagai tradisi yang masih dijaga hingga sekarang, antara lain:

  • Rosulan
  • Merti Dusun (dilaksanakan setiap tahun)
  • Perayaan Idul Adha
  • Perayaan Idul Fitri
  • Kamis Wage
  • Kerja bakti dan kegiatan gotong royong

Tradisi tersebut menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat Rejosari juga masih mengenal penggunaan penanggalan Jawa dalam berbagai kegiatan, seperti penentuan waktu tanam, pencarian ternak, pelaksanaan hajatan, dan kegiatan adat lainnya.


 

Scroll to Top